Minggu, 17 Maret 2013

Wacana Dialog dan Monolog


WACANA DIALOG DAN MONOLOG

A.  Wacana Dialog
Wacana dialog adalah wacana yang dibentuk oleh percakapan atau pembicaraan antara dua pihak seperti terdapat pada  obrolan pembicaraan dalam telepon, wawancara, teks drama, dan sebagainya.
Ada sepuluh unsur aspek pengkajian pengkajian percakapan dengan tambahan unsur kohesi dan koherensi. Komponen analisis meliputi analisis wacana dialog, yang membahas unsur-unsur dialog, seperti kerja sama percakapan, tindak tutur (speech acts); penggalan percakapan (adjacency pairs); pembukaan dan penutupan percakapan; percakapan lanjutan (repais); sifat rangkaian percakapan; unsur tata bahasa percakapan; alih kode (code switch); giliran percakapan (turn talkings); dan topik percakapan.
1.      Tuti      : “apa sebenarnya yang kau inginkan dengan mengikuti lomba karaoke?”
2.      Nani    : “Kamu ingin bagaimana? Tentu saja aku ingin menjadi juara.”
3.      Tuti      : “Ya kalau itu sih semua orang juga tahu. Kamu pasti punya motivasi lain kan?”
4.      Nani    : “Motivasi lain? Ah, kamu mau tahu saja.”
5.      Tuti      : “lalu apa hubungannya dengan lomba karaoke?”
6.      Nani    : “Uh, kamu kok belum ngerti juga, sih! Siapa tahu ada produser yang melirik aku!”
7.      Tuti      : “Ehem… iya juga ya. Terus mengapa kamu ingin menjadi penyanyi?”
8.      Nani    : “Mmm… Ya ingin saja. Ingin ngetop, ingin dapat uang banyak, ingin bikin video   klip, ingin…., ya banyaklah.”
9.      Tuti      : Mengangguk dan tersenyum.
10.  Nani    : “Namanya juga keinginan. Sah-sah saja bukan?”
11.  Tuti      : “ Ya…. ya…!”


1.    Tindak Tutur (Speech Act)
Berdasarkan jenis tindak tutur terdiri dari dua tindakan, yaitu :
a.    Tindakan Komisif
b.    Tindakan Ekspresif
Berdasarkan sifat hubungan
2.    Tindak Tutur lokusi
Berdasarkan Hakekat Pemakaian
-       Tindak Tutur Sopan Santun
Karena percakapan yang dianalisi adalahpercakapan antara dua orang teman sehingga unsur sopan santun tidak terlalu dipentingkan.
-       Tindak Tutur Penghormatan
Sama halnya seperti dalam kasus sopan, penghormatan juga tidak  ditemui dalam wacana dialog tersebut.
-        Tindak tutur tidak menghiraukan, juga tidak terdapat dalam dialog.

Penggalan Pasangan Percakapan (Adjacency Pairs)
       Ada delapan penggalan percakapan menurut Richard, yaitu tegur sapa, panggilan dan jawaban, tuduhan dan pengingkaran, penggalan peringatan atau perhatian, terdapat dalam wacana dialog yang dianalisis, permohinan dan persetujuan, ada dalam wacana, contohnya;
10.  Nani    : “Namanya juga keinginan. Sah-sah saja bukan?”
11.  Tuti      : “ Ya…. ya…!”
Permintaan penjelasan menjadi tuturan yang dominan dalam wacana, contohnya;
7        Tuti      : “Ehem… iya juga ya. Terus mengapa kamu ingin menjadi penyanyi?”
8        Nani    : “Mmm… Ya ingin saja. Ingin ngetop, ingin dapat uang banyak, ingin bikin video   klip, ingin…., ya banyaklah.”



Pembukaan dan Penutupan Percakapan
      Pada dasarnya pembukaan sebagai tuturan awal dan penutup sebagai tuturan akhir dari wacana dialog yang dianalisis tidak berupa salam maupun sapaan namun langsung berupa kalimat pertanyaan yang menjadi bagian dari topik sebuah rangkaian percakapan lengkap. Dan pembukaan sebagai tuturan awal penutup sebagai tuturan akhir dari setiap penggalan percakapan hanya
tergambar secara eksplisit.

3.      Kesempatan Berbicara (Turn Talking)
Kesempatan berbicara meliputi aspek-aspek topic pembicaraan, arah kesempatan, maksud percakapan, tanggapan peserta terhadap ketiganya, jumlah peserta dalam percakapan, serta inisiatif memotong atau mengambil peran.
Menurut sifatnya, kesempatan berbicara dapat dibagi dalam dialog otomatis, hal ini terkait dengan jumlah peserta dialog yang terdiri atas dua orang. Berbeda dengan giliran percakapan yang diatur, seperti pada teks drama atau film dijumpai percakapan formal penutur pertama dan kedua bergantian secara otomatis, ketika berbicara.
1.    Tuti : “apa sebenarnya yang kau inginkan dengan mengikuti lomba karaoke?”
2.    Nani            : “Kamu ingin bagaimana? Tentu saja aku ingin menjadi juara.”
3.    Tuti : “Ya kalau itu sih semua orang juga tahu. Kamu pasti punya motivasi lain kan?”
4.    Nani            : “Motivasi lain? Ah, kamu mau tahu saja.”

4.      Sifat Rangkaian Tuturan
Sesuai dengan sifat utama rangkaian tuturan yaitu membentuk situasi pergantian bertutur di dalam rangkaian percakapan (ritual interchanges), dalam dialog ini  pun demikian.
Pertama, rangkaian berantai (Chainning). Rangkaian ini berbentuk setiap pertanyaan dari C (Costumer) diikuti oleh S (Server) sehingga rumusannya menjadi;
T1-J1-T2-J2
5.    Tuti : “lalu apa hubungannya dengan lomba karaoke?”
6.    Nani            : “Uh, kamu kok belum ngerti juga, sih! Siapa tahu ada produser yang melirik aku!”
7.    Tuti : “Ehem… iya juga ya. Terus mengapa kamu ingin menjadi penyanyi?”
8.    Nani            : “Mmm… Ya ingin saja. Ingin ngetop, ingin dapat uang banyak, ingin bikin video   klip, ingin…., ya banyaklah.”
Kedua, rangkaian bergantung, terbentuk  dari pertanyaan T1 dari C yang dijawab dengan J1 oleh S dan dilanjutkan dengan T2 oleh S kemudian dijawab J2 oleh C.  Tidak terdapat dalam dialog.
Ketiga, yaitu rangkaian melingkar (Emberding). Bentuk pertanyaan ini C menanyakan T lalu S mereaksi C dengan jawaban T1, dengan skema sebagai berikut.
5.    Tuti : “lalu apa hubungannya dengan lomba karaoke?”
6.    Nani            : “Uh, kamu kok belum ngerti juga, sih! Siapa tahu ada produser yang melirik aku!”
7.    Tuti : “Ehem… iya juga ya. Terus mengapa kamu ingin menjadi penyanyi?”

5.      Keberlangsungan Percakapan (Repairs)
Keberlangsungan percakapan (repairs) yang erat kaitannya dengan kesempatan berbicara. Terutama yang berupa teknik menjawab atau mereaksi agar lawan bicara tertarik untuk meneruskan percakapan. Repairs sendiri berfungsi untuk menciptakan  situasi agar percakapan tetap berlangsung  terus, dalam dialog tidak muncul situasi yang menandai  diperlukannya usaha repairs. Antara lain dilakukan ketika  timbul ekspresi ha?, apa?, tidak jelas dan sebagainya. Kadang-kadang bahasa dibantu dengan gerakan anggota badan atau mimic yang menunjang terjadinya repairs.
9.    Tuti : Mengangguk dan tersenyum.

6.      Topik Percakapan
Topik ini mengarahkan seluruh percakapan sehingga tujuan percakapan dapat dicapai. Demikian  halnya dengan wacana yang dianalisis. Topic-topik kecil yaitu aspek-aspek tertentu yang timbul dalam rangkaian keseluruhan percakapan, kadang-kadang berubah dan meloncat-loncat namun masih dalam satu topic yang sesuai dengan situasi percakapan.
Selama percakapan berlangsung seringkali terjadi loncatan perhatian, biasanya karena terjadinya gumaman yang mengekspresikan perasaan yang menguatkan komunikasi.

Topik percakapan
1.         Alasan mengikuti lomba karaoke.
2.         Keinginan menjadi juara.
3.         Motivasi lain mengikuti lomba karaoke.
4.         Alasan tentang rasa ingin tahu.
5.         Keinginan menjadi penyanyi ngetop.
6.         Kaitan lomba karaoke dengan keinginan menjadi penyanyi.
7.         Alasan ingin menjadi penyanyi;
8.         Pembicaraan tentang keinginan;
9.         Senyum simpatik.
10.     Sah-sah saja berkeinginan banyak.
11.     Mengiyakan.
Tidak ada aspek yang berkaitan dengan berkelangsungan percakapan atau repairs karena dialog ini “standar” dengan sederhana.


Analisis Alih Kode
            Analisis pemakaiannya, terutama dalam percakapan, alih kode ini sering dipakai berganti-ganti baik secara sadar maupun tidak, karena adanya komponen-komponen tertentu yang mempengaruhinya. Dalam wacana dialog ini tidak terdapat alih kode, yang seperti dikatakan Poedjsoedarmo, gejala alih kode timbul karena beberapa hal diantaranya factor komponen bahasa yang bermacam-macam, namun dalam dialog ini tidak ditemukan alih kode.

B. Wacana Monolog
     Wacana monolog adalah wacana yang tidak melibatkan suatu bentuk tutur  percakapan atau pembicaraan dua pihak yang berkepentingan. Yang termasuk pada jenis monolog adalah  semua bentuk teks, surat, bacaan, cerita dan sebagainya.   Hal-hal yang penting yang menjadi  bahan analisis wacana monolog dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1.      Hal-hal yang berhubungan dengan rangkaian dan  kaitan tuturan  (kohesi dan koheren).
2.      Hal-hal yang berhubungan dengan penunjukan atau perujukan (referensi).
3.      Hal-hal yang berkaitan dengan pola pikiran dan pengembangan wacana (topik dan pengembangan logika).
a.      Analisis Rangkaian Antar Kalimat
(1)   Siapa bilang remaja Indonesia cengeng? (2) banyak  yang berprestasi di forum Internasional, walaupun minim fasilitas. (3) Buktinya, dalam beberapa tahun terakhir kita membawa pulang puluhan medali dalam berbagai olimpiade dunia. (4) ada matematika, fisika, biologi, kimia, juga astronomi, komputer.
1.) Kalimat  nomor 2 merupakan   jawaban  terhadap pertanyaan  kalimat nomor 1 yang menyanggah bahwa remaja Indonesia  tidak cengkeng.
2.) kalimat nomor 3 merupakan pembuktian dari kalimat nomor 2.
3.) kalimat ke 4 merupakan contoh-contoh yang menguatkan kalimat nomor 2 dan 3.

b.      Analisis Rangkaian Antar Kalimat
Untuk bertanding ditingkat Internasional, saingan  cukup berat. Negara saingan rata-rata kurikulum pendidikannya  stabil dan mutu terjamin.  Enggak gonta-ganti  kayak  Negara kita  yang saban ganti menteri ganti kurikulum ini.  Seluruhnya ada enam tahapan yang harus ditempuh peserta.
Pertama, seleksi tingkat sekolah. Pada tahap ini guru merekomendasikan murid yang dianggap unggul. Sekolah menyeleksi  per bidang studi , lalu mengirimkan  peserta terbaiknya itu ikut seleksi tingkat kecamatan. Setelah itu masuk tahap dua, yaitu seleksi tingkat kabupaten. Wakil-wakil sekolah diadu tanding untuk mewakili kotanya di tingkat provinsi di tingkat selanjutnya yang melaksanakan kantor dinas pendidikan provinsi. Setiap kabupaten atau kota mengirimkan siswa dengan jumlah maksimal lima calon pada setiap olimpiade. Kalau lolos, diikutkan ke seleksi nasional.
Siswa Hasil terbaik dari provinsi ini disaring oleh tim, yang terdiri dari unsur perguruan tinggi dan Pembina, sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Dari seleksi nasional akan dipilih sebanyak kurang lebih 30 siswa terbaik untuk dibina sekitar satu bulan. Materi pembinaan disesuaikan dengan materi olimpiade Internasional. Pembinaan ini melibatkan unsur-unsur dari Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi bandung, universitas Indonesia, dan Instansi lain serta direktorat pendidikan menengah dan umum.
Terakhir, pembinaan tahap kedua (khusus). Dari hasil pembinaan tahap peetama, akan dipilih 10 sampai 15 calon yang akan dibina khusus selama satu bulan. Mereka dikarantina lho. Dari pembinaan khusus ini, barulah dipilih empat sampai enam peserta yang akan mewakili Indonesia dalam olimpiade Internasional.
Kebanyakan peserta hanya punya waktu singkat untuk mempersiapkan diri. “waktu dikasih tahu guru untuk  olimpiade ini,  waktu saya Cuma sekitar seminggu lebih. Mana sempat belajar macam-macam,” kata yudistira,, yang bernama asli Ali Sucipto dari SMU Xaperius I Palembang yang berlaga di olimpiade fisika tahun ini. Tapi, begitu masuk tim, kalau hari sekolah biasa, cowok yang hobi bulu tangkis dan bola ini menyediakan waktu lima, sampai, 12 jam. Pas karantina baru belajar dari pagi sampai malam.
1)      Kaitan ke bawah
Aline 4 berakhir dengan penjelasan untuk awal alinea. Kemudian alinea 5 berisi tentang pemaparan alinea 4 akhir.
2)      Kaitan ke atas
Alinea 6 meningkatkan diri dengan aline 5 melalui penggunaan kalimat siswa hasil terbaik dari provinsi itu akan disaring oleh tim …… hal ini menjadi pengembangan alinea 5 (perhatian kalimat di tingkat selanjutnya yang melaksanakan kantor dinas pendidikan provinsi).
3)       Kaitan ke atas dan ke bawah
Awal aline 7 meningkatkan diri dengan alinea 5 dan 6 melalui penggunaan kata terakhir. Sedangkan kalimat terakhir pada alinea 7 memberi indikasi terdapat kaitan dengan alinea 8 yakni berbicara tentang peserta olimpiade.
c.    Analisis rangkaian dalam kalimat
(1)      Ihsan yang ikut olimpiade biologi, mengungkapkan senada. (2) “Kami direkomendasikan oleh guru ikut seleksi di sekolah, terus kebetulan saya maju terus sampai tingkat nasional. Belajar tidaknya ada istrahatnya, sama dengan yang lain. Habis mau praktikum  sulit, laboratorium tidak memadai. Jarang praktik, “ (3) Tutur pelajar SMU 1 Padang Panjang, Sumatra Barat, yang jarang berkonsultasi dengan gurunya ini.
1)   Perkataan pada nomor 1 berperan meningkatkan ihsan dan olimpiade biologi. Sifat rangkaian ini adalah keterangan subjek.
2)   Perkataan (tutur) pelajar SMU 1 Padang, Sumatra Barat, yang jarang berkomunikasi sama gurunya ini menunjuk pada ihsan.



d.      Analisis Rangkaian Leksikon
Meskipun banyak bibit unggul di daerah minimnya fasilitas membuat teman-teman kita di daerah mengalami hambatan. Tak lain masalahnya soal biaya. Pak Yohanes Surya mencerceritakan teman-teman yang bersekolah di Papua terpaksa mendapat pelajaran di sekolah dari guru yang bukan bukan bidangnya. Sebab, sekolahnya tidak ada biaya untuk menggaji guru. Hingga terpaksa satu sekolah diajar oeh dua orang guru untuk berbagai bidang.
1)      Dari segi penyatuan kata, misalnya kata minimnya masalahnya, dan sekolahnya dapat dianalisis. Fungsi –nya pada minimnnya bersifat membedakan. Demikian juga pada masalahnya. Sedangkan untuk sekolahnya –nya berfungsi sebagai kata ganti.
2)      Dari segi penggulangan kata, perkataan teman-teman berbentuk pengertian jamak.
e.       Rujukan ke Luar Wacana Situasional (eksoforik)
Perkataan dinas pendidikan, ITB, dan SMU 1 Makassar menunjuk kepada objek di luar teks.
f.       Aspek Gramatikal dan Leksikal Pendukung Kepaduan Teks
Pada bagian ini di deskripsikan tentang aspek gramatikal dan leksikal melalui piranti-piranti wacana yang terdapat dalam wacana teks yang akan dikaji. Pendeskripsian ini dilakukan untuk mengetahui piranti wacana mana yang secara domain mendukung kepaduan teks dan piranti-piranti mana yang tidak terdapat di dalam teks.
g.      Aspek Gramatikal
Aspek ini meliputi: referensi, ellipsis dan konjungsi. (Halliday & Hasan, 1976; Sumarlan, 2005).
1.      Referensi
Ada dua jenis referensi dalam teks, yaitu referensi pronomina persona dan referensi demonstratif. Referensi pronominal persona 1 tunggal, bentuk bebas, yaitu saya dan referensi pronominal persona jamak, bentuk bebas, yaitu kami. Sedangkan referensi demonstaratif meliputi demonstrative waktu dan tempat.
2.      Elipsis (Pelepasan)
Ellipsis atau pelepasan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa pelepasan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan dalam sebelumnya. Fungsi pelepasann dalam wacana adalah efektivitas kalimat, efisiensi pemakaian bahasa, kepaduan wacana, mengaktifkan pikiran pembaca atau pendengar terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan bahasa, dan kepraktisan berbahasa.
3.      Jonjungsi
Ada dua konjungsi, yaitu konjungsi sekuensial dan konjungsi optatif. Konjungsi sekuensial menyatakan hubungan makna urutan antara tuturan sebelum konjungsi dan sesudah konjungsi. Konjungsi optatif menyatakan hubungan makna harapan, yaitu harapan si penerima pesan.
h.      Subtitusi (penyulihan)
Ada eempat subtitusi dalam teks yang merupakan jenis kohesi gramatikal, yang berupa pengganti satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda, diantaranya subtitusi nominal, subtitusi verbal, subtitusi frasal, dan subtitusi klausal.
    
          
   







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar